Tampilkan postingan dengan label BAHASA INDONESIA. Tampilkan semua postingan
Rabu, 27 November 2013
Menulis naskah drama
Bermain peran adalah kegiatan memerankan pribadi orang
lain berkenaan dengan watak/sikap/tingkah laku, sehingga seolah-olah
dapat menjadi orang lain. Untuk dapat diperankan oleh orang lain, perlu
dibentuk karakter seorang tokoh yang sesuai dengan imajinasi/bayangan.
Pembentukan bayangan/imajinasi tokoh tersebut perlu dijelaskan dalam sebuah
karangan yang berbentuk deskripsi.
Dalam mendeskripsikan tokoh perlu gambaran secara utuh tokoh
yang akan diperankan. Dengan demikian, orang lain yang hendak memerankan
tokoh yang telah diciptakan, akan memiliki imajinasi/gambaran yang jelas. Untuk
menggambarkan tokoh imajinasi diperlukan beberapa hal yang perlu dituliskan.
Misalnya, gambarkan identitas tokoh, seperti nama tokoh, umur, jenis kelamin
jabatan/pekerjaannya, tingkat ekonomi, dan lingkungan sosial tempat tinggalnya.
Selanjutnya, jelaskan gambaran fisik yang berkenaan dengan ciri-ciri tubuh,
seperti cacat jasmani, ciri khas yang menonjol, suku, bangsa,
wajah/raut muka, potongan rambut, baju dan aksesoris yang
dikenakan, tinggi/pendek, kurus/gemuk, atau suka senyum/cemberut. Tidak
lupa jelaskan juga watak, kesukaan, ambisi, temperamental yang dimiliki tokoh
tersebut sehingga tokoh tersebut memiliki karakter yang kuat.
Salah satu hal yang harus diperhatikan dalam menulis drama
adalah kaidah penulisan naskah drama. Misalnya, petunjuk perilaku tokoh
harus ditulis berbeda dengan teks dialog pelaku tersebut agar memudahkan aktor
untuk memerankan tokoh tersebut.
Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam penulisan naskah drama
adalah sebagai berikut,
1. Struktur dasar sebuah drama terdiri atas tiga bagian: prolog, dialog, dan epilog.
1. Struktur dasar sebuah drama terdiri atas tiga bagian: prolog, dialog, dan epilog.
a. Prolog
merupakan pembukaan atau peristiwa pendahuluam dalam sebuah
drama atau sandiwara. Bisa juga, dalam sebuah prolog dikemukakan para pemain,
gambaran seting, dan sebagainya.
b. Dialog/monolog
merupakan media kiasan yang melibatkan tokoh-tokoh drama yang
diharapkan dapat menggambarkan kehidupan dan watak manusia, problematika yang
dihadapi, dan bagaimana manusia dapat menyelesaikan persoalan hidupnya.
c. Epilog
adalah bagian terakhir dari sebuah drama yang berfungsi
untuk menyampaikan intisari cerita atau menafsirkan maksud cerita oleh seorang
aktor pada akhir cerita. Dengan kata lain, epilog merupakan peristiwa terakhir
yang menyalesaikan peristiwa induk.
2. Dalam sebuah dialog itu sendiri, ada tiga elemen yang
tidak boleh dilupakan.
Ketiga elemen tersebut adalah tokoh, wawancang/percakapan, dan kramagung.
Ketiga elemen tersebut adalah tokoh, wawancang/percakapan, dan kramagung.
a. Tokoh
adalah pelaku yang mempunyai peran yang lebih dibandingkan
pelaku-pelaku lain, sifatnya bisa protagonis atau antagonis.
b. Wawancang/Percakapan
adalah dialog atau monolog yang harus diucapkan oleh tokoh
cerita.
c. Kramagung
adalah petunjuk perilaku, tindakan, atau perbuatan yang
harus dilakukan oleh tokoh. Dalam naskah drama, kramagung dituliskan dalam
tanda kurung (biasanya dicetak miring).
Seorang tokoh dapat beraksi karena tokoh tersebut memiliki
konflik. Konflik dalam pementasan tidak terlepas dari kehadiran tokoh yang
bertentangan satu dengan lainnya. Gerakan atau tindakan para tokoh, juga
melalui dialog yang diucapkan, dapat membentuk suatu peristiwa. Peristiwa
ini berasal dari hal yang biasa sampai konflik yang memuncak. Hal yang patut
diperhatikan adalah peristiwa konflik tidak terjadi begitu saja, tetapi melalui
tahapan-tahapan alur. Dalam hal ini, peristiwa yang satu akan
mengakibatkan peristiwa yang lain.
Tag :// BAHASA INDONESIA
SINOPSIS
Sinopsis adalah ringkasan cerita cerpen. Ringkasan cerpen adalah bentuk pemendekan dari sebuah cerpen dengan tetap memperhatikan unsur-unsur intrinsik cerpen tersebut. membuat Sinopsis merupakan suatu cara yang efektif untuk menyajikan cerita yang panjang dalam bentuk yang singkat.
Dalam sinopsis, keindahan gaya bahasa, ilustrasi, dan penjelasan-penjelasan dihilangkan, tetapi tetap mempertahankan isi dan gagasan umum pegarangnya.
Sinopsis biasanya dibatasi oleh jumlah halaman, misalnya dua atau tiga halaman, seperlima atau sepersepuluh dari panjang karangan asli.
- Tema
Yaitu gagasan inti. Dalam sebuah cerpen, tema bisa disamakan dengan pondasi sebuah bangunan.
- Alur atau Plot
Yaitu rangkaian peristiwa yang menggerakkan cerita untuk mencapai efek tertentu.
- Penokohan
Yaitu penciptaan citra tokoh dalam cerita.
- Latar atau Setting
yaitu segala keterangan mengenai waktu, ruang dan suasana dalam suatu cerita.
- Sudut Pandangan Tokoh
Diantara elemen yang tidak bisa ditinggalkan dalam membangun cerita pendek adalah sudah pandangan tokoh yang dibangun sang pengarang.
Tag :// BAHASA INDONESIA
Pengertian Akronim dan Contoh kalimatnya
Akronim ialah singkatan yang berupa gabungan huruf awal, gabungan suku kata, ataupun gabungan huruf dan suku kata dari deret kata yang di perlukan sebagai kata.
1. Akronim nama diri yang berupa gabungan huruf awal sari deret kata di tulis seluruhnya dengan huruf kapital.
Contoh :
· TNI : Tentara Nasional Indonesia
- Pendaftaran TNI akan di buka lagi awal bulan Januari nanti.
· AKMIL : Akademi Militer.
- Bagus mengikuti pendidikan AKMIL yang berada di Madiun.
· IBI : Ikatan Bidan Indonesia.
- Ketua IBI kota garut yaitu ibu Euis Aisyah, SST.
· STNK : Surat Tanda Nomor Kendaraan.
- Ketika ada razia lalu lintas, Ayah lupa tidak membawa STNK.
· TOGA : Taman Obat Keluarga.
- Mama menanam tanaman obat betadin di TOGA.
2. Akronim nama diri yang berupa gabungan suku kata atau gabungan huruf dan suku kata dari deret kata di tulis dengan huruf awal huruf kapital.
Contoh :
· Cagub : Calon Gubernur.
- Pemilihan Cagub di kota Bandung berlangsung dengan hikmat.
· Cawapres : Calon Wakil Presiden.
- Cawapres priode 2009 – 2014 adalah Boediono.
· Rp : Rupiah.
- mata uang Republik Indonesia ialah Rp.
- mata uang Republik Indonesia ialah Rp.
· Yth : Yang Terhormat.
- Kepada yang terhormat bapak Dian Herdiana, SH
· Dll : Dan Lain – Lain.
- Perlatan yang harus dibawa saat BIMAPEKA adalah caping, hula – hula, kacamata Dll.
- Perlatan yang harus dibawa saat BIMAPEKA adalah caping, hula – hula, kacamata Dll.
3. Akronim yang bukan nama diri yang berupa gabungan huruf suku kata atau pun gabungan huruf dan suku kata dari deret kata seluruhnya di tulis dengan huruf kecil.
Contoh :
· kades : kepala desa
- kades cipanas bernama Dedi Ibrahim.
· asbun : asal bunyi
- saya tidak suka dengan orang yang sering berbicara asbun.
· gepeng : gelandangan dan pengemis.
- Di kota Jakarta sering sekali saya selalu melihat gepeng berkeliaran.
· petrus : penembak misterius.
- Serka Dedi Handoko tewas di tempat setelah di tembak oleh seorang petrus.
· rapim : rapat pemimpin.
- Rapim akan di mulai pada jam 08.00 WIB.
4. Singkatan nama gelar.
· Dosen mata kuliah bahasa Indonesia adalah Dian Herdiana, SH
· Hari Rabu, ibu Novi Irma Megawati, SST selalu mengisi mata kuliah umum.
· Setiap mahasiswa AKBID YPSDMI GARUT – JABAr yang telah mengikuti wisuda akan mempunyai gelar Amd. Keb contonya : Pitaloka Amd. Keb
· Ketua IBI kota Garut yaitu ibu Euis Aisyah, SST
· Ade Nugraha, S.Kep adalah dosen keterampilan dasar kebidanan I
Tag :// BAHASA INDONESIA
Jumat, 17 Mei 2013
1.Pengertian
Afiks
Imbuhan
(afiks) adalah suatu bentuk linguistik yang di dalam suatu kata merupakan unsur
langsung, yang bukan kata dan bukan pokok kata. Melainkan mengubah leksem
menjadi kata kompleks, artinya mengubah leksem itu menjadi kata yang mempunyai
arti lebih lengkap, seperti mempunyai subjek, predikat dan objek. Sedangkan
prosesnya sendiri di sebut afiksasi (affixation).
Afiksasi adalah proses pembubuhan afiks pada sebuah dasar atau bentuk dasar. Dalam proses ini terlibat unsure-unsur (1) dasar atau bentuk dasar (2) afiks, dan (3) makna gramatikal yang dihasilkan. Proses ini dapat bersifat inflektif dan dapat pula bersifat derivatif. Namun, proses ini tidak berlaku untuk semua bahasa. Ada sejumlah bahasa yang tidak mengenal proses afiksasi ini.
Bentuk dasar atau dasar yang menjadi dasar dalam proses afiksasi dapat berupa akar, yakni bentuk terkecil yang tidak dapat disegmentasikan lagi, misalnya meja, beli, makan dll, dalam bahasa Indonesia ; atau go, write, sing dan like dalam bahasa Inggirs. Dapat juga berupa bentuk kompleks, seperti terbelakang pada keterbelakangan, berlaku pada kata memberlakukan. Dapat juga berupa frase, seperti ikut serta pada keikutsertaan.
Afiks adalah sebuah bentuk, biasanya berupa morfem terikat, yang diimbuhkan pada sebuah dasar dalam proses pembentukan kata. Jenis-jenis afiks di bedakan menurut posisinya dan sifat kata yang dibentuknya.
Afiksasi adalah proses pembubuhan afiks pada sebuah dasar atau bentuk dasar. Dalam proses ini terlibat unsure-unsur (1) dasar atau bentuk dasar (2) afiks, dan (3) makna gramatikal yang dihasilkan. Proses ini dapat bersifat inflektif dan dapat pula bersifat derivatif. Namun, proses ini tidak berlaku untuk semua bahasa. Ada sejumlah bahasa yang tidak mengenal proses afiksasi ini.
Bentuk dasar atau dasar yang menjadi dasar dalam proses afiksasi dapat berupa akar, yakni bentuk terkecil yang tidak dapat disegmentasikan lagi, misalnya meja, beli, makan dll, dalam bahasa Indonesia ; atau go, write, sing dan like dalam bahasa Inggirs. Dapat juga berupa bentuk kompleks, seperti terbelakang pada keterbelakangan, berlaku pada kata memberlakukan. Dapat juga berupa frase, seperti ikut serta pada keikutsertaan.
Afiks adalah sebuah bentuk, biasanya berupa morfem terikat, yang diimbuhkan pada sebuah dasar dalam proses pembentukan kata. Jenis-jenis afiks di bedakan menurut posisinya dan sifat kata yang dibentuknya.
Macam-Macam Imbuhan (Afiks)
a. Awalan (prefiks/ prefix)
Awalan (prefiks / prefix) adalah imbuhan yang terletak di awal kata. Proses awalan (prefiks) ini di sebut prefiksasi (prefixation).
Berdasarkan dan pertumbuhan bahasa yang terjadi, maka awalan dalam
bahasa indonesia dibagi menjadi dua macam, yaitu imbuhan asli dan
imbuhan serapan, baik dari bahasa daerah maupun dari bahasa asing.
Awalan terdiri dari me, di, ke, ter, pe, per, se, ber, dan dijelaskan dalam contoh.
Awalan me- pada sebuah kata dasar
berfungsi untuk membentuk kata kerja aktif. Awalan pe- pada suatu kata
dasar dapat berfungsi menjadi kata benda. Perubahan awalan me- menjadi
meng-, pe- menjadi peng- terjadi jika kata dasar yang mengawali memiliki
bunyi: /a/, /e/, /g/, /h/,/i/, /u/, /o/, /k/
- Contoh: ambil – mengambil, hancur – penghancur
Perubahan awalan me- menjadi men-, pe- menjadi pen- terjadi jika kata dasar yang mengawali memiliki bunyi: /c/, /d/, /j/
- Contoh: coba – mencoba, dorong – pendorong
Perubahan awalan me- menjadi mem-, pe- menjadi pem- terjadi jika kata dasar yang mengawali memiliki bunyi: /b/, /f/, /v/
- Contoh: beli – membeli, pembeli
Perubahan awalan me menjadi meny-, pe- menjadi peny- terjadi jika kata dasar yang mengawali memiliki bunyi: /s/
- Contoh: siksa – menyiksa, penyiksa
Kata dasar yang memiliki bunyi /p/, /t/, /k/ diubah menjadi /m/ dan /n/
- Contoh: pakai – memakai, pemakai
Kata dasar yang tidak mengalami perubahan bunyi awalan adalah: /l/, /m/, /n/, /r/.
- Contoh: lamar – melamar, pelamar
Awalan ber- dan per- berfungsi membentuk kata kerja aktif.
Untuk kata dasar yang diawali dengan r, maka awalan ber- menjadi be-, per- menjadi pe-.
- Contoh: Renang – berenang, perenang
Awalan di- dan ter- berfungsi membentuk
kata kerja dan membawa arti yang pasif. Penempatan obyek di depan
sebagai subyek dalam kalimat dan pemindahan pelaku menjadi obyek dalam
kalimat dapat diterapkan untuk kedua awalan ini.
- Contoh: Kotoran itu diinjak oleh temanku. (membawa arti pasif)
Kotoran itu terinjak oleh temanku. (membawa arti pasif)
Awalan se- berfungsi untuk membentuk kata benda.
- Contoh: Ikat – seikat, Indah – seindah
Awalan ke- berfungsi membentuk kata kerja intransitif ( tidak membutuhkan obyek).
- Contoh: Luar – keluar (Ia sedang keluar .)
Dalam – kedalam (Mereka sedang kedalam.)
Awalan-awalan (imbuhan dari bahasa asing)
pada kata-kata serapan yang disadari adanya, juga oleh penutur yang
bukan dwibahasawan, adalah sebagai berikut:
- a- seperti pada amoral, asosial, anonym, asimetris. Awalan ini mengandung arti ‘tidak’ atau ‘tidak ber’.
- anti- seperti pada antikomunis, antipemerintah, antiklimaks, antimagnet, antikarat yang artinya ‘melawan’ atau ‘bertentangan dengan’.
- bi- misalnya padab ilateral, biseksual, bilingual, bikonveks. Awalan ini artinya ‘dua’.
- de- seperti pada dehidrasi, devaluasi, dehumanisasi, deregulasi. Awalan ini artinya ‘meniadakan’ atau ‘menghilangkan’.
- eks- seperti pada eks-prajurit, eks-presiden, eks-karyawan, eks-partai terlarang. Awalan ini artinya ‘bekas’ yang sekarang dinyatakan dengan kata ‘mantan’.
- ekstra- seperti pada ekstra-universiter, ekstra-terestrial, ekstra linguistic, kadang juga dipakai pada kata-kata bahasa Indonesia sendiri. Contoh: ekstra-ketat, ekstra-hati-hati. Awalan ini artinya ‘tambah’, ‘diluar’, atau ‘sangat’.
- hiper- misalnya pada hipertensi, hiperseksual, hipersensitif. Awalan ini artinya ‘lebih’ atau ‘sangat’.
- in- misalnya pada kata inkonvensional, inaktif, intransitive. Awalan ini artinya ‘tidak’.
- infra- misalnya pada infrastruktur, inframerah, infrasonic. Awalan ini artinya ‘di tengah’.
- intra- misalnya pada intrauniversiter, intramolekuler. Awalan ini artinya ‘di dalam’.
- inter- misalnya interdental, internasional, interisuler, yang biasa di Indonesiakan dengan antar-.
- ko- misalnya pada kokulikuler, koinsidental, kopilot, kopromotor. Awalan ini artinya ‘bersama-sama’ atau ‘beserta’.
- kontra- misalnya pada kontrarevolusi, kontradiksi, kontrasepsi. Awalan ini artinya ‘berlawanan’ atau ‘menentang’.
- makro- misalnya pada makrokosmos, makroekonomi, makrolinguistik. Awalan ini artinya ‘besar’ atau ‘dalam arti luas’.
- mikro- seperti pada mikroorganisme, mikrokosmos, microfilm. Awalan ini artinya ‘kecil’ atau ‘renik’.
- multi- seperti padamultipartai, multijutawan, multikompleks, multilateral, multilingual. Awalan ini artinya ‘banyak’.
- neo- seperti pada neokolonialisme, neofeodalisme, neorealisme. Awalan ini artinya ‘baru’.
- non- seperti pada nongelar, nonminyak, nonmigas, nonberas, nonOpec. Awalan ini artinya ‘bukan’ atau ‘tidak ber-‘.
b. Akhiran (sufiks/ sufix)
Akhiran (sufiks/ sufix) adalah imbuhan
yang terletak di akhir kata. Dalam proses pembentukan kata ini tidak
pernah mengalami perubahan bentuk. Proses pembentukannya di sebut
safiksasi (suffixation). Akhiran terdiri dari kan, an, i, nya, man,
wati, wan, asi, isme, in, wi, dan lainnya dalam contoh.
Contoh: -an + pikir→pikiran, -in +
hadir→hadirin, -wan + karya→karyawan, -wati+karya→kryawati, -wi+
manusia→manusiawi. Semua akhiran ini di sebut sebagai akhiran untuk kata benda.
Sedangkan akhiran yang berupa kata sifat,
seperti: -if→aktif, sportif. -ik→magnetik, elektronik. -is→praktis,
anarkis. -er→komplementer, parlementer. -wi→manusiawi, surgawi, duniwi.
Kadang-kadang akhiran yang berupa kata
sifat, ada yang berasal dari bahasa inggris dan ada yang berasal dari
bahasa arab. Contoh: -al→formal, nasional. -iah→alamiah, batiniah.
-i→abadi, alami, hewani, rohani. -nya→melihatnya, mendengarnya,
mengalaminya. -in→muslimin, mu’minin. -at→muslimat, mu’minat.
-us→politikus. -or→koruptor. -if→produktif, sportif. Untuk lebih
lengkap, simak selanjutnya.
Pada kata-kata asing yang diserap ke dalam bahasa Indonesia kita jumpai akhiran-akhiran seperti berikut:
- –al misalnya pada actual, structural, emosional, intelektual. Kata-kata yang berakhiran –al ini tergolong kata sifat.
- –asi/isasi misalnya pada afiksasi, konfirmasi, nasionalisasi, kaderisasi, komputerisasi. Akhiran tersebut menyatakan ‘proses menjadikan’ atau ‘penambahan’.
- –asme misalnya pada pleonasme, aktualisme, sarkasme, antusiasme. Akhiran ini menyatakan kata benda.
- –er seperti pada primer, sekunder, arbitrer, elementer. Akhiran ini menyatakan sifat.
- –et seperti pada operet, mayoret, sigaret, novelete. Akhiran ini menyatakan pengertian ‘kecil’. Jadi operet itu ‘opera kecil’, novelet itu ‘novel kecil’.
- .–i/wi/iah misalnya pada hakiki, maknawi, asasi, asali, duniawi, gerejani, insani, harfiah, unsuriyah, wujudiyah. Akhiran-akhiran ini menyatakan sifat.
- –if misalnya pada aktif, transitif, obyektif, agentif, naratif. Akhiran ini menyatakan sifat.
- –ik (1) seperti pada linguistik, statistik, semantic, dedaktik. Akhiran ini menyatakan ‘benda’ dalam arti ‘bidang ilmu’.
- -ik (2) seperti pada spesifik, unik, karakteristik, fanatik, otentik. Akhiran ini menyatakan sifat.
- –il seperti pada idiil, materiil, moril. Akhiran ini menyatakan sifat. Pada kata-kata lain kata-kata ini diganti dengan –al.
- –is (1) pada kata praktis, ekonomis, yuridis, praktis, legendaries, apatis. Akhiran ini menyatakan sifat.
- –is (2) pada kata ateis, novelis, sukarnois, marxis, prosaic, esei. Akhiran ini menyatakan orang yang mempunyai faham seperti disebut dalam kata dasar, atau orang yang ahli menulis dalam bentuk seperti yang disebut di dalam kata dasar.
- –isme seperti pada nasionalisme, patriotisme, Hinduisme, bapakisme. Isme artinya ‘faham’.
- –logi seperti pada filologi, sosiologi, etimologi, kelirumologi, -logiartinya ‘ilmu’.
- –ir seperti pada mariner, avonturir, banker. Akhiran ini menyatakan orang yang bekerja pada bidang atau orang yang mempunyai kegemaran ber-.
- –or seperti pada editor, operator, deklamator, noderator. Akhiran ini artinya orang yang bertindak sebagai orang yang mempunyai kepandaian seperti yang tersebut pada kata dasar.
- –ur seperti pada donator, redaktur, kondektur, debitur, direktur. Akhiran ini seperti yang di atas menyatakan agentif atau pelaku;
- –itas seperti pada aktualitas, objektivitas, universitas, produktivitas. Akhiran ini menyatakan benda.
c. Sisipan (infiks /infix)
Sisipan (infiks/ infix) adalah imbuhan
yang terletak di dalam kata. Jenis imbuhan ini tidak produktif, artinya
pemakaiannya terbatas hanya pada kata-kata tertentu. Jadi hampir tidak
mengalami pertambahan secara umum. Sisipan terletak pada suku pertama
kata dasarnya, yang memisahkan konsonan pertama dengan vokal pertama
suku tersebut. Prosesnya imbuhan kata tersebut di sebut infixation.
Imbuhan yang berupa sisipan seperti: -er-, -el-, -em- dan -in.
Sisipan ( infiks/ infix) dapat mempunyai makna, antara lain:
i. Menyatakan banyak dan
bermacam-macam. Contohnya: tali→ temali, artinya terdapat bermacam-macam
tali. gigi→gerigi, artinya terdapat bermacam gigi. sabut→serabut,
artinya terdapat bermacam-macam sabut. kelut→kemelut, gunung→gemunung,
artinya terdapat bermacam-macam gunung.
ii. Menyatakan intensitas
frekuentif, artinya menyatakan banyaknya waktu. Contoh: getar→gemetar,
artinya menunjukan banyaknya waktu getar atau gerak suatu benda.
guruh→gemuruh, artinya menunjukan banyaknya waktu guruh.
gertak→gemertak, artinya menujukan banyaknya waktu bunyi gertak.
cicit→cericit, artinya menujukan banyaknya waktu bunyi cicit.
iii. Menyatakan sesuatu yang mempunyai sifat seperti yang di
sebut pada kata dasarnya. Contoh: kata kerja→kinerja, artinya sesuatu
yang mempunyai sifat sama dengan kerja atau sesuatu sifat kegigihan.
kuning→kemuning, artinya sesuatu yang mempunyai sifat sama dengan warna
kuning. gilang→gemilang, artinya sesuatu yang mempunyai sifat sama
dengan cerah. turun→temurun, artinya sesuatu yang mempunyai sifat
terus-menerus. tunjuk→telunjuk, artinya sesuatu yang mempunyai sifat
seperti tunjuk.
Ada juga sisipan (infiks) yang di
pengaruhi oleh bahasa jawa. Contoh: kata kesinambungan, yang merupakan
kata dasar dari kata sinambung yang di sebut kata dasar sekunder.
Sedangkan kata dasar primernya sambung mendapat sisipan –in- yang
artinya menyatakan sifat terus-menerus. Sama halnya dengan istilah yang
terdapat dalam bidang ekonomi, dalam proses imbuhan kata dasar juga
terdapat istilah yang sama, tetapi mempunyai makna yang berbeda. Istilah
itu adalah kata dasar primer, kata dasar sekunder, dan kata dasar
tersier.
Kata dasar primer adalah
kata dasar yang berupa kata asal atau morfem dasar, yang di pakai
sebagai kata dasar pertama dalam pembentukan kata jadian. Contoh:
dengar→dengarkan→perdengarkan, artinya kata dengarkan merupakan kata
dasar dari kata dengar yang mendapat akhiran– kan . Demikian juga dengan
kata perdengarkan, berasal dari kata dasar dengar yang mendapat konfiks
per-kan. Kata dasar primer, haruslah pada kata jadian yang
sekurang-kurangnya di bentuk melalui dua tahap.
Kata dasar sekunder
adalah kata dasar yang berupa kata jadian yang di pakai sebagai dasar
kedua dalam pembentukan kata jadian yang lebih kompleks. Contoh:
dengarkan→perdengarkan, dipikir→dipikirkan, main→bermain-main,
merata→meratakan.
Kata dasar tersier
adalah kata dasar yang berupa kata jadian yang di pakai sebagai dasar
ketiga dalam pembentukan kata yang lebih kompleks. Contoh: kata
guna→gunakan→pergunakan→mempergunakan. ingat→ingatkan→ peringatkan→
diperingatkan. harap→harapkan→diharapkan→diharapkannya.
Sisipan (infiks/ infix) biasanya di
bentuk dari kata benda (nomina) menjadi kata sifat (adjektifa).
Adjektifa tingkat kuatif dengan prefiks se- dan tingkat superlatif
dengan prefiks ter-. Hasil pengafiksan dengan infiks atau sisipan –em-
pada nomina, adjektiva yang jumlahnya sangat terbatas.
Tag :// BAHASA INDONESIA
Senin, 29 April 2013
Karya : IRDINA NUR HAZIQOH
Kelas : VIIA / 13
Disaat cakrawala mulai terlihat
Aku terbangun dari tidurku
Kibaran bendera kuning terpampang di rumahku
Isak tangis terdengar sayup – sayup ditelingaku
Lantunan ayat suci AL-QUR’AN berkumandang
Aku bertanya..?? Ada apa ini..??
Ternyata....
Kabar duka menyelimuti keluargaku
Orang yang aku sayang kini sudah tiada
Ia pergi menghadap illahi
Ya ALLAH...
Mengapa engkau ambil beliau secepat itu
Aku sangat menyayanginya
Semoga, beliau berada di tempat paling indah disisimu
Amin...
Tag :// BAHASA INDONESIA
Selasa, 09 Oktober 2012
Unsur Intrinsik dan Ekstrinsik Karya Sastra
1. Tema
Inti cerita atau pokok pikiran sebuah karya sastra
Tema ada dua jenis:
a. Tema Tradisional
Tema tradisional masih memakai tema-tema yang umum yang sudah biasa didengar (klasik)
contoh:
Kebenaran selalu menang
akhir cerita yang bahagia
b. Tema Modern
Tema modern sudah tidak memakai tema-tema yang umum.
contoh:
yang benar tidak selalu menang
akhir cerita tidak selalu bahagia
2. Tokoh/Penokohan
Tokoh-tokoh yang ada dalam sebuah cerita beserta wataknya
Berdasarkan sifatnya tokoh dibagi menjadi dua:
a. Protagonis
Tokoh yang mempunyai sifat baik
b. Antagonis
Tokoh yang mempunyai sifat jahat
Berdasarkan keutamaannya tokoh dibagi menjadi dua:
a. Pelaku utama
Tokoh yang dipentingkan atau yang menjadi pokok pembicaraan dalam sebuah cerita
b. Pemeran pembantu
Tokoh yang tidak begitu dipentingkan dan tidak menjadi pokok pembicaraan dalam sebuah cerita. Namun berperan untuk mendukung tokoh utama.
3. Latar/Setting
Latar terjadinya sebuah cerita
a. Latar Tempat
tempat terjadinya sebuah cerita
contoh: di sekolah, di pasar, di dapur, di kamar
b. Latar waktu
waktu terjadinya sebuah peristiwa
contoh: tahun, tanggal, hari, jam, pagi, siang atau malam
c. Latar sosial
Kehidupan yang diangkat dalam sebuah cerita
contoh: kehidupan orang berada, orang miskin, orang yang tinggal di kolong jembatan
4. Alur/Plot
Alur adalah jalan cerita
Alur dibagi menjadi 3 yaitu:
a. Alur maju
dalam alur maju cerita berjalan sesuai dengan urutan waktu
b. Alur mundur
dalam alur mundur cerita bergerak mundur ke masa yang telah berlalu (flash back)
c. Alur campuran
dalam alur campuran jalan cerita berjalan maju tetapi sesekali berjalan mundur ke masa yang lalu.
Jenis alur berdasarkan akhir dari cerita:
1. Alur terbuka
Cerita dengan alur terbuka membiarkan pembaca menyimpulkan sendiri akhir dari cerita.
hal ini membuat pembaca lebih berekspresi dan berimajinasi.
2.Alur tertutup
Cerita dengan alur tertutup penulis langsung menutup akhir cerita yang tidah bisa diubah oleh pembaca.
Tahapan Alur:
1. Eksposisi
Pemaparan, pengenalan cerita
2. Komplikasi
Gejala awal terjadinya konflik
3. Klimaks
Terjadinya konflik
4. Antiklimaks
Penurunan konflik
5. Resolusi
Penyelesaian masalah
6. Konklusi
Akhir cerita
5. Sudut Pandang (point of view)Sudut pandang adalah cara pengarang menceritakan tokohnya
Jenis-jenis sudut pandang:
1. Orang pertama pelaku utama
Pengarang menjadi tokoh utama dalam sebuah cerita. Biasanya pengarang menggunakan kata aku atau saya
2. Orang pertama pelaku sampingan
Pengarang tidak menjadi tokoh utama dalam sebuah cerita, namun pengarang ada dalam cerita tersebut. Yang menjadi tokoh utama dalam cerita tersebut adalah orang di sekitar pengarang. biasanya ada kaitannya dengan pengarang.
3. Orang ketiga serba tahu
Pengarang tidak ada dalam sebuah cerita. Namun pengarang seolah-olah tahu yang terjadi dalam sebuah cerita.
4 Orang ketiga terbatas
Pengarang tidak ada dalam sebuah cerita. Pengarang seolah-olah tidak tau yang akan terjadi dalam sebuah cerita.
5. Campuran
Gabungan dari dua atau lebih sudut pandang
6. Amanat/pesan yang terkandung
Amanat atau pesan yang dapat diambil dari sebuah cerita
Jenis amanat:
a. Eksplisit
Amanat benar-benar ditulis dalam sebuah cerita sehingga pembaca tidak perlu berpikir lagi untuk mencari amanat yang terkandung dalam sebuah cerita.
b. Implisit
Amanat tidak ditulis oleh pengarang dalam sebuah cerita sehingga pembaca perlu berpikir lagi, memahami sebuah cerita sehingga menemukan sendiri amanat yang terkandung dalam sebuah cerita.
Unsur Ekstrinsik karya sastra adalah unsur-unsur yang melatarbelakangi terbentuknya sebuah karya sastra.
Unsur Ekstrinsik karya sastra tersebut diantaranya:
1. Latar belakang pengarang
Biografi pengarang, kejadian-kejadian yang dialami pengarang
2. Sosial
Kehidupan masyarakat tempat terbentuknya sebuah karya sastra
3. Ekonomi
Keadaan ekonomi pada saat terbentuknya karya sastra
4. Politik
Keadaan politik pada saat terbentuknya karya sastra
5. Budaya
Tag :// BAHASA INDONESIA



